Selasa, 11 Juni 2013

Syair Tanjung Pendam I



Syair Tanjung Pendam I

Kala mentari enggan menyapa, aku tersimpuh sendiri
Menatap belibis di bibir pantai..
Menatap belahan jingga langit di ufuk timur
Dan kutatap mata bathin ini, adakah berkas rindu itu disana

Di bibir pantai ini dulu, kuraih mimpi
Kugadaikan semua asa dan rasa ini, untuk diri mu
Walau kutahu waktu itu, aku bukan yang terbaik
Hanya sesosok yang senang dengan sebuah syair

Kehampaan itu kembali terulang, kala ku kunjungi bibir pantai
Di keramaian kusendiri, mengenang kisah2 yang dulu pernah ter ukir
KIni ilalang pun tak bernanyi merdu di sepanjang jalanan
Hiruk pikuk dan keramaian kota ku sudah menjelma menjadi fatamorgana

Bait-bait syair yang dulu kubuat di bibir pantai kembali kususun
Kalimat-kalimat cinta dan kerinduan..
Andai aku pergi, ku ingin kesejukan itu lestari dalam hidup ku
Agar resah ku pergi, dan luka hati tiada tersandang sepanjang hayat ku

Syair yang sama, namun berarti bagi diri ini
Goresan hati memang memendam luka yang teramat perih
Tentang kisah kasih yang tak tersampaikan
Tentang diri mu yang dulu pernah memberikan arti dalam hidup ku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar